November 15, 2015

Cari Jati Diri, Go-Jek Malah Ditolak Pemerintah


Menajemen Go-Jek belakangan ini hampir sempat didemo oleh para karyawannya, sebab keputusan mengurangi tarif per kilometer (km) dinilai banyak pengendara Go-Jek hanya membuat sulit mendapatkan orderan dan tentunya secara otomatis mengurangi pendapatan para pengemudi.

Pada 3 November, manajemen Go-Jek terpaksa memangkas subsidi pada driver, karena pengemudi Go-Jek sudah membeludak, dan jauh sebelum adanya kebijakan penurunan tarif per kilometer ini banyak pengemudi yang sudah gantung jaket Go-Jek dengan alasan Go-Jek yang saat ini sudah berbeda dengan awal peluncuran.

Tidak semua pengemudi Go-Jek menanggapi serius soal penurunan tarif. Adapula pengemudi yang tetap bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Apalagi, keluhan yang sering kali dilontarkan para pengemudi Go-Jek tidak banyak didengarkan oleh para manajemen Go-Jek.

Apalagi, manajemen Go-Jek telah mengambil keputusan yang tegas, dengan menindak para pengemudi yang terus-terusan melakukan demo. Keputusan manajemen Go-Jek melainkan sebagai bentuk tegas kepada pengemudi yang tidak peduli terhadap kesinambungan perusahaan.

13 November, aksi gaduh para pengemudi Go-Jek akhirnya meredam, ketika CEO Go-Jek Nadiem Makarim memberikan penjelasan kepada para pengemudi mengenai pengurangan tarif per kilometer.

Nadiem mengatakan, pengurangan tarif merupakan pilihan yang terbaik bagi pengemudi maupun bagi pelanggan. "Kami punya dua pilihan, apakah kami akan menghilangkan potongan (promo) untuk pengguna, tapi yang terjadi pengemudi justru akan lebih menderita karena pengguna akan jauh lebih sedikit," kata Nadiem pekan lalu.

"Jadi, daripada melakukan hal tersebut, kami memilih untuk menjaga pertumbuhan dengan mengurangi transaksi untuk pengemudi, sehingga pengemudi tetap mendapat pesanan," sambung dia.

Praktisi Bisnis Rhenald Kasali menilai, tidak stabilnya tarif yang diterapkan Go-Jek lantaran perusahaan ojek online ingin memberikan value (nilai) kepada pelanggannya.

Dia menjelaskan, Go-Jek merupakan perusahaan start-up yang masih mencari bentuk dalam berbisnis, hal tersebut juga terlihat dari jumlah pengemudi Go-Jek yang membludak dan sudah mencapai ribuan.

Di sisi lain, kehadiran ojek berbasis aplikasi seperti Go-Jek, masih belum didukung oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Menurut Menteri Perhubungan Ignasius Jonan tidak ada transportasi digital, melainkan hanya bisnisnya yang berbasis digital.

"Transportasi itu yang mampu memindahkan orang atau barang dari tempat satu ke tempat lainnya, mungkin kalau di film seperti 'Star Track' transportasi digital itu memang ada," kata Jonan.

Lantas pada 12 November, Jonan menyebutkan, pemerintah masih menolak kehadiran ojek online karena tidak masuk kepada transportasi umum seperti yang tertera dalam UU. Motor sendiri bukan sebagai angkutan umum. Oleh karenanya, Jonan telah melayangkan surat kepada Kapolri untuk menertibkan ojek online yang tengah marak saat ini.

"Karena hal tersebut melanggar UU yang ada," kata Jonan.

Sumber : okezone.com

Cari Jati Diri, Go-Jek Malah Ditolak Pemerintah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Tukang Ojek

 

Top